Language Particles as Markers of Social Identity: A Sociology of Literature Study on the Use of “Kin” and “Da” in the Speech of the Alas Community
Keywords:
sosiologi sastra, bahasa lisan, identitas sosial, partikel bahasa, masyarakat AlasAbstract
Bahasa lisan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium simbolik yang merepresentasikan identitas sosial dan struktur kultural suatu masyarakat. Jurnal ini mengkaji penggunaan partikel bahasa “Kin” dan “Da” dalam tuturan masyarakat Alas sebagai praktik linguistik yang sarat makna sosial. Berangkat dari perspektif sosiologi sastra, penelitian ini memandang tuturan lisan sebagai teks sosial yang merefleksikan relasi antara bahasa, identitas etnik, dan reproduksi nilai budaya. Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta analisis tuturan lisan penutur asli bahasa Alas di Kabupaten Aceh Tenggara. Data dianalisis melalui pembacaan wacana sosiokultural untuk mengungkap fungsi simbolik dan sosial partikel bahasa dalam konteks interaksi sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partikel “Kin” dan “Da” berfungsi sebagai penanda identitas sosial yang menegaskan afiliasi etnik, membangun solidaritas sosial, serta mereproduksi habitus berbahasa masyarakat Alas. Meskipun tidak memiliki fungsi gramatikal yang menentukan makna proposisional, keberadaan partikel tersebut justru menjadi simbol asal-usul dan memori kolektif yang membedakan penutur Alas dari kelompok etnik lain. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa lisan, khususnya unsur partikel, memiliki peran strategis dalam mempertahankan identitas kultural di tengah tekanan homogenisasi bahasa nasional. Secara teoretis, artikel ini berkontribusi pada pengembangan sosiologi sastra Indonesia dengan memperluas objek kajian sastra ke praktik tutur lisan sebagai teks sosial yang hidup dan dinamis.
References
Appadurai, A. (1996). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Barker, C. (2012). Cultural studies: Theory and practice (4th ed.). London: Sage Publications.
Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Cambridge: Polity Press.
Bourdieu, P. (1994). Distinction: A social critique of the judgement of taste. London: Routledge.
Duranti, A. (1997). Linguistic anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
Fairclough, N. (1995). Critical discourse analysis: The critical study of language. London: Longman.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York: Basic Books.
Hall, S. (1996). Who needs identity? In S. Hall & P. du Gay (Eds.), Questions of cultural identity (pp. 1–17). London: Sage Publications.
Hymes, D. (1974). Foundations in sociolinguistics: An ethnographic approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kramsch, C. (1998). Language and culture. Oxford: Oxford University Press.
Ratna, N. K. (2011). Paradigma sosiologi sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, N. K. (2015). Teori, metode, dan teknik penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santoso, A. (2012). Bahasa, identitas, dan kekuasaan: Perspektif analisis wacana kritis. Jurnal Bahasa dan Seni, 40(2), 123–135.
Sibarani, R. (2012). Kearifan lokal: Hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
Sudaryanto. (2015). Metode dan aneka teknik analisis bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Wellek, R., & Warren, A. (2014). Teori kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yule, G. (2010). The study of language (4th ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Sunawardi, Ati Rosmiati, Edi Syahputa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










